Event Planning·6 min read
Event Organizer vs DIY: Biaya Sebenarnya yang Harus Diketahui
# Event Organizer vs DIY: Biaya Sebenarnya yang Harus Diketahui
"Biarin aja kita handle sendiri, kan bisa hemat budget." Kalimat ini sering terdengar di kantor. Tapi apakah benar-benar hemat?
Banyak perusahaan mengira kalau handle event sendiri lebih murah. Padahal, biaya tersembunyi sering kali membuat budget jadi lebih besar dari yang direncanakan.
Berikut perbandingan biaya sebenarnya antara event organizer dan DIY.
## Biaya yang terlihat
Ini biaya yang biasanya masuk budget:
- Sewa venue
- Catering
- AV dan sound system
- Dekorasi
- Foto dan video
Kalau dijumlahkan, mungkin terlihat Rp 100-150 juta untuk event 100 orang. Terlihat terkendali, kan?
Tapi tunggu dulu. Itu baru biaya yang terlihat.
## Biaya tersembunyi yang sering terlewat
### 1. Waktu tim
Siapa yang handle event? Biasanya karyawan yang sudah punya pekerjaan lain. Mereka harus meluangkan waktu 80-120 jam untuk planning event.
Kalau dikalikan dengan biaya waktu profesional (sekitar Rp 200.000/jam), itu sudah Rp 16-24 juta. Belum termasuk produktivitas mereka yang terganggu di pekerjaan utama.
### 2. Kesalahan vendor
Karena tidak punya pengalaman, sering kali ada kesalahan: AV yang tidak sesuai, catering yang terlambat, dekorasi yang mengecewakan.
Biaya perbaikan? Biasanya Rp 10-20 juta. Dan itu belum termasuk stres yang ditanggung.
### 3. Budget overrun
Event DIY rata-rata meleset 15-25% dari budget awal. Untuk event Rp 100 juta, itu berarti Rp 15-25 juta tambahan biaya.
Event organizer yang berpengalaman biasanya bisa menjaga budget tetap on track karena tahu harga pasar yang realistis.
### 4. Opportunity cost
Waktu yang dihabiskan untuk handle event adalah waktu yang tidak digunakan untuk pekerjaan utama. Kalau tim marketing sibuk handle event, siapa yang handle campaign?
## Perbandingan biaya nyata
| Komponen | DIY | Pakai EO |
|----------|-----|----------|
| Venue + catering | Rp 80M | Rp 65M (nego) |
| AV | Rp 30M | Rp 25M (bulk) |
| Dekorasi | Rp 20M | Rp 15M (vendor tetap) |
| Waktu internal | Rp 30M | Rp 0 |
| Kesalahan & koreksi | Rp 10M | Rp 0 |
| Budget overrun 20% | Rp 28M | Rp 0 |
| **Total** | **Rp 168M** | **Rp 105M** |
| Fee EO | - | + Rp 25-35M |
| **Grand Total** | **Rp 168M** | **Rp 130-140M** |
Jadi sebenarnya pakai event organizer lebih hemat Rp 28-38 juta. Dan itu belum termasuk perbedaan kualitas yang signifikan.
## Kapan DIY masuk akal
DIY tidak selalu salah. Cocok untuk:
- Event kecil (di bawah 20 orang)
- Internal meeting atau team lunch
- Budget yang memang sangat terbatas
- Tim yang punya pengalaman handle event
Tapi untuk event yang lebih besar dan client-facing, pakai event organizer biasanya lebih efisien.
## Kapan harus pakai event organizer
Wajib pakai event organizer kalau:
- Event yang melibatkan klien atau partner bisnis
- Event di atas 50 orang
- Butuh banyak vendor yang perlu dikoordinasi
- Event yang penting untuk reputasi perusahaan
- Tim internal sudah sibuk dengan pekerjaan lain
## Kesimpulan
Pakai event organizer bukan berarti boros. Justru sering kali lebih hemat karena mereka tahu cara nego vendor, hindari kesalahan, dan jaga budget tetap on target.
Yang paling penting, waktu dan tenaga tim kamu bisa fokus pada pekerjaan utama mereka.
---
Mau tahu berapa biaya event yang sesungguhnya? [Hubungi EO Jakarta](/request-proposal) untuk konsultasi gratis. Kami bantu budgeting yang realistis.
Artikel Terkait
Langkah selanjutnya
Ingin mempraktikkan apa yang baru Anda baca?
Tim kami siap membantu dari tahap awal — punya gambaran kasar pun tidak apa-apa. Ngobrol dulu, gratis.